Semua berawal dari percakapan dengan seorang guru. Ia mengajar mata pelajaran yang sama di tiga kelas berbeda, dan menyiapkan perangkat ajar untuk ketiganya. Meski begitu, ia merasa hasilnya belum tepat karena ketiga kelas itu punya kebutuhan yang tidak sama.
Kami mendengar keluhan serupa dari guru di berbagai daerah. Setiap guru sebenarnya sudah mengenal kelasnya masing masing: kelas mana yang cepat memahami, kelas mana yang perlu contoh lebih banyak, dan aktivitas apa yang berhasil di kelas tertentu. Namun pengetahuan itu hanya tersimpan di ingatan guru, sehingga mudah terlupakan dan harus diingat ulang setiap kali menyiapkan pertemuan berikutnya.
Hal yang sama terjadi pada evaluasi setelah mengajar. Guru mencatat apa yang berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki, tetapi catatan itu jarang dibuka kembali saat menyiapkan pertemuan selanjutnya. Akibatnya, perangkat ajar berikutnya sering dibuat dari awal tanpa mempertimbangkan apa yang sudah terjadi di kelas.
Pramuajar dibangun untuk menutup jarak tersebut. Perangkat ajar disiapkan per kelas, evaluasi guru tersimpan rapi, dan pertemuan berikutnya disusun dengan mempertimbangkan evaluasi itu, sehingga guru tidak perlu memulai dari nol setiap kali.
Pembelajaran berdiferensiasi menjadi dasar dari cara kami membangun Pramuajar, bukan karena sedang menjadi tren pelatihan guru. Kurikulum Merdeka mengarahkan pembelajaran agar disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, dan arah ini terus diperkuat melalui pembaruan kurikulum setelahnya. Bahkan, Rapor Pendidikan yang disusun pemerintah turut mengukur sejauh mana pembelajaran terdiferensiasi sudah diterapkan di kelas, melalui survei yang diisi guru setiap tahun. Dengan kata lain, pendekatan ini bukan sekadar pilihan kami, melainkan arah yang memang didorong secara resmi bagi pendidikan di Indonesia.