Mengajar seperti biasa, perangkat menyesuaikan setiap kelas.
Bapak/Ibu cukup memilih kelas, bab, dan subbab. Dari pilihan itu, Pramuajar menyusun Modul Ajar, RPP, LKPD, Materi Ajar, dan PPT sekaligus. Setelah mengajar, ceritakan kondisi kelas hari itu, lalu perangkat pertemuan berikutnya disusun mengikuti cerita tersebut.
✓ Untuk Bapak/Ibu yang mengajar beberapa kelas dengan karakter berbeda.
Aktivitas inti memakai diskusi berpasangan dan kelompok kecil.
PPT dibuka dengan contoh konkret sebelum masuk ke definisi.
Lima perangkat tersusun untuk masing-masing kelas, bukan satu versi untuk semua.
Satu kelas, satu riwayat
Kelas 8A dan 8B tersimpan terpisah. Setiap kelas punya catatan perangkat dan evaluasinya sendiri, sehingga pendekatannya bisa berbeda meski materinya sama.
Sekali proses, lima perangkat
Modul Ajar, RPP, LKPD, Materi Ajar, dan PPT disusun bersamaan dari tujuan yang sama. Bapak/Ibu tidak perlu menyelaraskannya satu per satu.
Cerita hari ini, perangkat besok
Evaluasi setelah mengajar tersimpan, lalu dipakai untuk menyesuaikan metode, waktu, dan aktivitas pada pertemuan berikutnya.
Satu kelas, satu riwayat. Bukan sekadar klaim.
Halaman Kelas menampilkan setiap kelas sebagai kartu tersendiri: tiga kelas Bahasa Indonesia dari tingkat tujuh, delapan, dan sembilan, lengkap dengan jadwal mengajarnya masing-masing. Dari sinilah fondasi pembelajaran berdiferensiasi dimulai: setiap kelas berdiri sendiri, dengan riwayat modul dan evaluasinya sendiri.
Materi sama, kondisi kelas berbeda.
Perbedaan respons, tempo belajar, dan partisipasi murid perlu masuk ke dalam persiapan pembelajaran, bukan berhenti setelah bel pulang.
Ada kelas yang hidup saat berdiskusi
Kelas lain justru lebih mudah memahami materi setelah melihat contoh terlebih dahulu.
Kecepatan belajar setiap kelas berbeda
Durasi dan jumlah aktivitas perlu disesuaikan dengan waktu yang benar-benar tersedia.
Kesulitan belajar tidak selalu sama
Contoh, urutan penjelasan, dan bentuk latihan perlu mengikuti hasil pembelajaran sebelumnya.
Catatan guru sering berhenti sebagai catatan
Padahal cerita setelah mengajar dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pertemuan berikutnya.
Setelah mengajar, Bapak/Ibu biasanya sudah tahu apa yang perlu diperbaiki: materi yang belum dipahami, aktivitas yang kurang berjalan, waktu yang tidak cukup, atau metode yang lebih cocok untuk kelas itu.
Pramuajar menyimpan cerita tersebut, lalu memakainya untuk menyusun perangkat pertemuan berikutnya. Selesai, tanpa mengulang dari awal.
Sesederhana ini.
Bapak/Ibu tidak perlu mempelajari sistem baru. Pramuajar mengikuti rutinitas mengajar yang sudah berjalan, lalu membangun fondasi pembelajaran berdiferensiasi dari karakter kelas dan evaluasi sebelumnya.
Pilih kelas dan bab
Tentukan kelas, bab, dan subbab yang akan diajarkan hari ini.
Perangkat tersusun
Lima perangkat tersusun mengikuti karakter kelas yang dipilih.
Ceritakan hasilnya
Setelah mengajar, ceritakan singkat apa yang terjadi di kelas.
Pertemuan berikutnya menyesuaikan
Cerita tersebut menjadi dasar penyusunan perangkat pertemuan selanjutnya.
Lima perangkat lahir dari tujuan dan materi yang sama.
Kelima perangkat disusun dalam satu proses agar isi dan aktivitasnya tetap konsisten. Tidak ada bagian yang perlu diselaraskan secara manual.
Tujuan, langkah pembelajaran, asesmen, refleksi, dan konteks kelas.
Alur pelaksanaan yang realistis sesuai pertemuan, jam pelajaran, dan durasi.
Aktivitas murid yang mengikuti tujuan dan kegiatan pada perangkat utama.
Ringkasan konsep, contoh, analogi, pertanyaan, dan potensi miskonsepsi.
Materi, pemantik, aktivitas, soal, dan refleksi yang siap dibawa ke kelas.
Cukup pilih kelas, bab, subbab, dan waktu pembelajaran.
Data guru, sekolah, dan kelas tersimpan setelah pengisian pertama. Pada penggunaan berikutnya, Bapak/Ibu tidak perlu memasukkannya lagi.
- ✓ Bab dan subbab tersedia untuk dipilih, tanpa perlu diketik satu per satu.
- ✓ Data guru, sekolah, dan kelas tersimpan otomatis.
- ✓ Pertemuan baru dapat melanjutkan evaluasi terakhir.
- ✓ Seluruh hasil tetap dapat diubah sesuai kebutuhan.
Seperti pada tampilan di samping: bab dari buku siswa muncul sebagai deretan pilihan, subbabnya tinggal diklik, dan panel alur kerja memandu empat langkah yang sama, mulai dari bab dan setup sampai evaluasi pertemuan.
Menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kondisi setiap kelas.
Bapak/Ibu dapat menyiapkan perangkat yang berbeda untuk kelas yang berbeda, meskipun materinya sama. Evaluasi dari setiap pertemuan dipakai untuk menyesuaikan perangkat berikutnya.
Kelas 8A lebih aktif ketika berdiskusi dalam kelompok.
Kelas 8B lebih mudah memahami materi melalui contoh konkret.
Pramuajar menyesuaikan aktivitas, materi, LKPD, dan PPT untuk masing-masing kelas.
1 Perangkat disusun per kelas.
Setiap kelas memiliki riwayat perangkat, evaluasi, dan pertemuannya sendiri.
2 Pertemuan berikutnya mengikuti evaluasi.
Jika waktu kurang, materi masih sulit, atau diskusi lebih efektif, perangkat berikutnya ikut menyesuaikan.
3 Bapak/Ibu tetap memegang kendali.
Pramuajar menyusun perangkat dan memberi rekomendasi. Seluruh hasil tetap dapat diubah.
Pembelajaran berdiferensiasi bukan sekadar pilihan pendekatan.
Kurikulum Merdeka menjadikan penyesuaian pembelajaran terhadap kebutuhan belajar murid sebagai cara kurikulum ini seharusnya dijalankan. Arah tersebut ditetapkan melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, lalu diperkuat oleh Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026.
Penerapannya juga diukur secara resmi. Melalui Kepmendikdasmen Nomor 63 Tahun 2026, "Pembelajaran terdiferensiasi" dan "instruksi yang adaptif" menjadi indikator dalam Rapor Pendidikan yang dinilai setiap tahun melalui Survei Lingkungan Belajar.
Pramuajar membantu Bapak/Ibu menjalankan pendekatan ini dalam pekerjaan sehari-hari, dimulai dari menyiapkan perangkat yang sesuai dengan karakter setiap kelas.
Penyesuaian perangkat antarkelas dan antarpertemuan. Perangkat kelas 8A dapat berbeda dari 8B, dan perangkat pertemuan kedua dapat berubah mengikuti evaluasi pertemuan pertama.
Penyesuaian untuk kebutuhan berbeda di dalam satu kelas. Kami sedang mempelajari bentuk bantuan, aktivitas, dan tugas yang paling dibutuhkan guru di lapangan.
Cerita Bapak/Ibu langsung menjadi penyesuaian nyata.
Tulis atau rekam apa yang terjadi di kelas: materi yang belum dipahami, aktivitas yang berhasil, waktu yang kurang, atau tujuan yang belum tercapai. Bentuknya seperti bercerita, bukan mengisi formulir.
Formnya ringan, seperti pada tampilan di samping: tulis dua sampai empat kalimat tentang kegiatan yang berjalan baik, bagian yang terasa sulit, dan reaksi murid, atau tekan tombol Ucapkan dengan suara. Tiga sampai lima menit setelah mengajar sudah cukup, tanpa perlu istilah teknis.
Tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen disusun dari dasar yang jelas.
Pramuajar memakai Capaian Pembelajaran terbaru dan materi buku siswa nasional sebagai dasar, lalu menghubungkannya dengan perangkat yang Bapak/Ibu gunakan di kelas.
Tujuan dan materi disusun dari arah pembelajaran yang berlaku.
Pramuajar memulai dari Capaian Pembelajaran, lalu menurunkannya menjadi tujuan, materi esensial, kegiatan, dan asesmen untuk kelas yang dipilih. Sebelum modul disusun, empat sumber diperiksa dan ditandai lengkap, disertai tautan resmi ke buku Kemendikdasmen dan kutipan Capaian Pembelajaran yang ditampilkan apa adanya.
Dasar yang dipakai adalah Capaian Pembelajaran terbaru sesuai Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025, serta materi buku siswa nasional yang relevan. Materi lengkap dapat diakses melalui buku.kemendikdasmen.go.id.
Membantu murid tidak hanya menerima materi, tetapi benar-benar belajar.
Pembelajaran mendalam menuntut murid membangun pemahaman sendiri, menghubungkannya dengan pengalaman, lalu memakainya di situasi nyata. Pramuajar menerjemahkan tuntutan itu menjadi kegiatan yang dapat langsung dijalankan di kelas.
Berkesadaran
Murid mengetahui tujuan belajar sejak awal pertemuan, sehingga mereka paham apa yang sedang dibangun dan mengapa hal itu penting.
Bermakna
Materi dihubungkan dengan pengalaman, persoalan, dan konteks yang dekat dengan kehidupan murid, bukan berhenti sebagai definisi.
Menggembirakan
Kegiatan disusun agar murid merasa aman untuk mencoba, bertanya, dan belajar dari kesalahan.
Memahami
Materi Ajar dan PPT menyusun konsep secara bertahap, mulai dari contoh konkret sebelum masuk ke definisi, sehingga murid membangun pengertian sendiri.
Mengaplikasi
LKPD dan aktivitas pada RPP mengajak murid memakai konsep tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang dekat dengan keseharian mereka.
Merefleksi
Asesmen dan bagian refleksi membantu murid dan guru melihat bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Ketiga tahap ini tidak berhenti pada satu pertemuan. Hasil refleksi hari ini menjadi titik awal pemahaman pada pertemuan berikutnya, sehingga pembelajaran terus berlanjut, bukan berulang dari nol.
Kemampuan murid dikembangkan melalui kegiatan nyata.
Pramuajar memilih kemampuan yang paling relevan dengan materi dan tujuan pertemuan, bukan mencantumkan seluruhnya di dalam dokumen.
Yang paling menentukan bukan banyaknya istilah dalam dokumen, melainkan apakah kegiatan yang disiapkan benar-benar memberi ruang bagi murid untuk memahami, mencoba, berdiskusi, membuat, dan merefleksikan.
Persiapan lebih cepat, perangkat lebih konsisten, pembelajaran lebih sesuai kelas.
✎ Untuk Guru
- ✓ Tidak memulai dari nol setiap pertemuan.
- ✓ Tidak menyusun lima perangkat terpisah.
- ✓ Lebih mudah mengelola beberapa kelas.
- ✓ Evaluasi tersimpan dan terpakai.
- ✓ Pertemuan berikutnya membawa konteks sebelumnya.
♡ Untuk Murid
- ✓ Pembelajaran lebih sesuai pengalaman kelas.
- ✓ Bagian yang belum dipahami dapat diperkuat.
- ✓ Aktivitas yang berhasil dapat dipakai lagi.
- ✓ Materi, LKPD, PPT, dan asesmen terasa satu kesatuan.
- ✓ Guru punya lebih banyak ruang memperhatikan kelas.
Pramuajar cocok untuk Bapak/Ibu yang:
- ✓ Mengajar mata pelajaran yang sama di beberapa kelas.
- ✓ Merasa kelas 8A dan 8B membutuhkan pendekatan berbeda.
- ✓ Ingin perangkat lebih rapi dan saling terhubung.
- ✓ Membutuhkan PPT sekaligus perangkat administrasi.
- ✓ Sering mengevaluasi, tetapi catatannya jarang terpakai lagi.
- ✓ Ingin menyiapkan pertemuan berikutnya tanpa memulai dari nol.
Yang sering ditanyakan Bapak/Ibu guru.
Apa saja yang disusun Pramuajar dalam satu proses? +
Lima perangkat sekaligus: Modul Ajar, RPP, LKPD, Materi Ajar, dan PPT. Kelimanya disusun bersamaan dari tujuan yang sama, sehingga isi dan aktivitasnya saling terhubung tanpa perlu diselaraskan satu per satu.
Apakah hasilnya boleh diubah? +
Boleh, seluruhnya. Pramuajar menyusun draf lengkap beserta rekomendasi, lalu keputusan akhir tetap di tangan Bapak/Ibu, mulai dari tujuan, aktivitas, sampai soal dan isi PPT.
Apakah perangkatnya mengikuti regulasi terbaru? +
Ya. Dasar penyusunannya adalah Capaian Pembelajaran sesuai Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 dan materi buku siswa nasional yang relevan. Arah pembelajaran berdiferensiasinya mengikuti Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 beserta aturan lanjutannya.
Dari mana Pramuajar tahu karakter kelas saya? +
Dari dua hal: data kelas yang Bapak/Ibu isi sekali di awal, dan cerita evaluasi setelah setiap pertemuan. Semakin sering evaluasi diisi, semakin sesuai perangkat pertemuan berikutnya dengan kondisi kelas.
Apakah evaluasi wajib diisi setiap pertemuan? +
Tidak wajib, tetapi sangat membantu. Cukup dua sampai empat kalimat, bisa juga diucapkan lewat perekam suara. Tanpa evaluasi pun perangkat tetap tersusun, hanya saja penyesuaiannya tidak sedalam ketika ada cerita dari kelas.
Berapa lama perangkat tersusun? +
Hitungan menit setelah kelas, bab, dan subbab dipilih. Waktu Bapak/Ibu lebih banyak terpakai untuk meninjau dan menyesuaikan hasil, bukan mengetik semuanya dari nol.
Apakah data kelas dan evaluasi saya aman? +
Data tersimpan per akun dan per kelas, dan hanya dipakai untuk menyusun perangkat Bapak/Ibu sendiri. Riwayat perangkat dan evaluasi dapat dilihat kembali kapan saja.
Apakah bisa dipakai untuk beberapa kelas dan mata pelajaran? +
Bisa untuk beberapa kelas sekaligus, masing-masing dengan riwayatnya sendiri, termasuk tingkat yang berbeda. Cakupan mata pelajaran dan jenjang mengikuti buku siswa nasional yang tersedia di aplikasi dan terus bertambah.
Mulai bangun fondasi berdiferensiasi untuk setiap kelas.
Pilih kelas dan materi yang akan diajarkan. Pramuajar menyusun lima perangkat sesuai karakter kelas, menyimpan cerita Bapak/Ibu setelah mengajar, dan memakainya untuk menyusun pertemuan berikutnya.
Mengajar seperti biasa, perangkat menyesuaikan setiap kelas.
Bapak/Ibu cukup memilih kelas, bab, dan subbab. Dari pilihan itu, Pramuajar menyusun Modul Ajar, RPP, LKPD, Materi Ajar, dan PPT sekaligus. Setelah mengajar, ceritakan kondisi kelas hari itu, lalu perangkat pertemuan berikutnya disusun mengikuti cerita tersebut.
✓ Untuk Bapak/Ibu yang mengajar beberapa kelas dengan karakter berbeda.
Aktivitas inti memakai diskusi berpasangan dan kelompok kecil.
PPT dibuka dengan contoh konkret sebelum masuk ke definisi.
Lima perangkat tersusun untuk masing-masing kelas, bukan satu versi untuk semua.
Satu kelas, satu riwayat
Kelas 8A dan 8B tersimpan terpisah. Setiap kelas punya catatan perangkat dan evaluasinya sendiri, sehingga pendekatannya bisa berbeda meski materinya sama.
Sekali proses, lima perangkat
Modul Ajar, RPP, LKPD, Materi Ajar, dan PPT disusun bersamaan dari tujuan yang sama. Bapak/Ibu tidak perlu menyelaraskannya satu per satu.
Cerita hari ini, perangkat besok
Evaluasi setelah mengajar tersimpan, lalu dipakai untuk menyesuaikan metode, waktu, dan aktivitas pada pertemuan berikutnya.
Satu kelas, satu riwayat. Bukan sekadar klaim.
Halaman Kelas menampilkan setiap kelas sebagai kartu tersendiri: tiga kelas Bahasa Indonesia dari tingkat tujuh, delapan, dan sembilan, lengkap dengan jadwal mengajarnya masing-masing. Dari sinilah fondasi pembelajaran berdiferensiasi dimulai: setiap kelas berdiri sendiri, dengan riwayat modul dan evaluasinya sendiri.
Materi sama, kondisi kelas berbeda.
Perbedaan respons, tempo belajar, dan partisipasi murid perlu masuk ke dalam persiapan pembelajaran, bukan berhenti setelah bel pulang.
Ada kelas yang hidup saat berdiskusi
Kelas lain justru lebih mudah memahami materi setelah melihat contoh terlebih dahulu.
Kecepatan belajar setiap kelas berbeda
Durasi dan jumlah aktivitas perlu disesuaikan dengan waktu yang benar-benar tersedia.
Kesulitan belajar tidak selalu sama
Contoh, urutan penjelasan, dan bentuk latihan perlu mengikuti hasil pembelajaran sebelumnya.
Catatan guru sering berhenti sebagai catatan
Padahal cerita setelah mengajar dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pertemuan berikutnya.
Setelah mengajar, Bapak/Ibu biasanya sudah tahu apa yang perlu diperbaiki: materi yang belum dipahami, aktivitas yang kurang berjalan, waktu yang tidak cukup, atau metode yang lebih cocok untuk kelas itu.
Pramuajar menyimpan cerita tersebut, lalu memakainya untuk menyusun perangkat pertemuan berikutnya. Selesai, tanpa mengulang dari awal.
Sesederhana ini.
Bapak/Ibu tidak perlu mempelajari sistem baru. Pramuajar mengikuti rutinitas mengajar yang sudah berjalan, lalu membangun fondasi pembelajaran berdiferensiasi dari karakter kelas dan evaluasi sebelumnya.
Pilih kelas dan bab
Tentukan kelas, bab, dan subbab yang akan diajarkan hari ini.
Perangkat tersusun
Lima perangkat tersusun mengikuti karakter kelas yang dipilih.
Ceritakan hasilnya
Setelah mengajar, ceritakan singkat apa yang terjadi di kelas.
Pertemuan berikutnya menyesuaikan
Cerita tersebut menjadi dasar penyusunan perangkat pertemuan selanjutnya.
Lima perangkat lahir dari tujuan dan materi yang sama.
Kelima perangkat disusun dalam satu proses agar isi dan aktivitasnya tetap konsisten. Tidak ada bagian yang perlu diselaraskan secara manual.
Tujuan, langkah pembelajaran, asesmen, refleksi, dan konteks kelas.
Alur pelaksanaan yang realistis sesuai pertemuan, jam pelajaran, dan durasi.
Aktivitas murid yang mengikuti tujuan dan kegiatan pada perangkat utama.
Ringkasan konsep, contoh, analogi, pertanyaan, dan potensi miskonsepsi.
Materi, pemantik, aktivitas, soal, dan refleksi yang siap dibawa ke kelas.
Cukup pilih kelas, bab, subbab, dan waktu pembelajaran.
Data guru, sekolah, dan kelas tersimpan setelah pengisian pertama. Pada penggunaan berikutnya, Bapak/Ibu tidak perlu memasukkannya lagi.
- ✓ Bab dan subbab tersedia untuk dipilih, tanpa perlu diketik satu per satu.
- ✓ Data guru, sekolah, dan kelas tersimpan otomatis.
- ✓ Pertemuan baru dapat melanjutkan evaluasi terakhir.
- ✓ Seluruh hasil tetap dapat diubah sesuai kebutuhan.
Seperti pada tampilan di samping: bab dari buku siswa muncul sebagai deretan pilihan, subbabnya tinggal diklik, dan panel alur kerja memandu empat langkah yang sama, mulai dari bab dan setup sampai evaluasi pertemuan.
Menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kondisi setiap kelas.
Bapak/Ibu dapat menyiapkan perangkat yang berbeda untuk kelas yang berbeda, meskipun materinya sama. Evaluasi dari setiap pertemuan dipakai untuk menyesuaikan perangkat berikutnya.
Kelas 8A lebih aktif ketika berdiskusi dalam kelompok.
Kelas 8B lebih mudah memahami materi melalui contoh konkret.
Pramuajar menyesuaikan aktivitas, materi, LKPD, dan PPT untuk masing-masing kelas.
1 Perangkat disusun per kelas.
Setiap kelas memiliki riwayat perangkat, evaluasi, dan pertemuannya sendiri.
2 Pertemuan berikutnya mengikuti evaluasi.
Jika waktu kurang, materi masih sulit, atau diskusi lebih efektif, perangkat berikutnya ikut menyesuaikan.
3 Bapak/Ibu tetap memegang kendali.
Pramuajar menyusun perangkat dan memberi rekomendasi. Seluruh hasil tetap dapat diubah.
Pembelajaran berdiferensiasi bukan sekadar pilihan pendekatan.
Kurikulum Merdeka menjadikan penyesuaian pembelajaran terhadap kebutuhan belajar murid sebagai cara kurikulum ini seharusnya dijalankan. Arah tersebut ditetapkan melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, lalu diperkuat oleh Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026.
Penerapannya juga diukur secara resmi. Melalui Kepmendikdasmen Nomor 63 Tahun 2026, "Pembelajaran terdiferensiasi" dan "instruksi yang adaptif" menjadi indikator dalam Rapor Pendidikan yang dinilai setiap tahun melalui Survei Lingkungan Belajar.
Pramuajar membantu Bapak/Ibu menjalankan pendekatan ini dalam pekerjaan sehari-hari, dimulai dari menyiapkan perangkat yang sesuai dengan karakter setiap kelas.
Penyesuaian perangkat antarkelas dan antarpertemuan. Perangkat kelas 8A dapat berbeda dari 8B, dan perangkat pertemuan kedua dapat berubah mengikuti evaluasi pertemuan pertama.
Penyesuaian untuk kebutuhan berbeda di dalam satu kelas. Kami sedang mempelajari bentuk bantuan, aktivitas, dan tugas yang paling dibutuhkan guru di lapangan.
Cerita Bapak/Ibu langsung menjadi penyesuaian nyata.
Tulis atau rekam apa yang terjadi di kelas: materi yang belum dipahami, aktivitas yang berhasil, waktu yang kurang, atau tujuan yang belum tercapai. Bentuknya seperti bercerita, bukan mengisi formulir.
Formnya ringan, seperti pada tampilan di samping: tulis dua sampai empat kalimat tentang kegiatan yang berjalan baik, bagian yang terasa sulit, dan reaksi murid, atau tekan tombol Ucapkan dengan suara. Tiga sampai lima menit setelah mengajar sudah cukup, tanpa perlu istilah teknis.
Tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen disusun dari dasar yang jelas.
Pramuajar memakai Capaian Pembelajaran terbaru dan materi buku siswa nasional sebagai dasar, lalu menghubungkannya dengan perangkat yang Bapak/Ibu gunakan di kelas.
Tujuan dan materi disusun dari arah pembelajaran yang berlaku.
Pramuajar memulai dari Capaian Pembelajaran, lalu menurunkannya menjadi tujuan, materi esensial, kegiatan, dan asesmen untuk kelas yang dipilih. Sebelum modul disusun, empat sumber diperiksa dan ditandai lengkap, disertai tautan resmi ke buku Kemendikdasmen dan kutipan Capaian Pembelajaran yang ditampilkan apa adanya.
Dasar yang dipakai adalah Capaian Pembelajaran terbaru sesuai Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025, serta materi buku siswa nasional yang relevan. Materi lengkap dapat diakses melalui buku.kemendikdasmen.go.id.
Membantu murid tidak hanya menerima materi, tetapi benar-benar belajar.
Pembelajaran mendalam menuntut murid membangun pemahaman sendiri, menghubungkannya dengan pengalaman, lalu memakainya di situasi nyata. Pramuajar menerjemahkan tuntutan itu menjadi kegiatan yang dapat langsung dijalankan di kelas.
Berkesadaran
Murid mengetahui tujuan belajar sejak awal pertemuan, sehingga mereka paham apa yang sedang dibangun dan mengapa hal itu penting.
Bermakna
Materi dihubungkan dengan pengalaman, persoalan, dan konteks yang dekat dengan kehidupan murid, bukan berhenti sebagai definisi.
Menggembirakan
Kegiatan disusun agar murid merasa aman untuk mencoba, bertanya, dan belajar dari kesalahan.
Memahami
Materi Ajar dan PPT menyusun konsep secara bertahap, mulai dari contoh konkret sebelum masuk ke definisi, sehingga murid membangun pengertian sendiri.
Mengaplikasi
LKPD dan aktivitas pada RPP mengajak murid memakai konsep tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang dekat dengan keseharian mereka.
Merefleksi
Asesmen dan bagian refleksi membantu murid dan guru melihat bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Ketiga tahap ini tidak berhenti pada satu pertemuan. Hasil refleksi hari ini menjadi titik awal pemahaman pada pertemuan berikutnya, sehingga pembelajaran terus berlanjut, bukan berulang dari nol.
Kemampuan murid dikembangkan melalui kegiatan nyata.
Pramuajar memilih kemampuan yang paling relevan dengan materi dan tujuan pertemuan, bukan mencantumkan seluruhnya di dalam dokumen.
Yang paling menentukan bukan banyaknya istilah dalam dokumen, melainkan apakah kegiatan yang disiapkan benar-benar memberi ruang bagi murid untuk memahami, mencoba, berdiskusi, membuat, dan merefleksikan.
Persiapan lebih cepat, perangkat lebih konsisten, pembelajaran lebih sesuai kelas.
✎ Untuk Guru
- ✓ Tidak memulai dari nol setiap pertemuan.
- ✓ Tidak menyusun lima perangkat terpisah.
- ✓ Lebih mudah mengelola beberapa kelas.
- ✓ Evaluasi tersimpan dan terpakai.
- ✓ Pertemuan berikutnya membawa konteks sebelumnya.
♡ Untuk Murid
- ✓ Pembelajaran lebih sesuai pengalaman kelas.
- ✓ Bagian yang belum dipahami dapat diperkuat.
- ✓ Aktivitas yang berhasil dapat dipakai lagi.
- ✓ Materi, LKPD, PPT, dan asesmen terasa satu kesatuan.
- ✓ Guru punya lebih banyak ruang memperhatikan kelas.
Pramuajar cocok untuk Bapak/Ibu yang:
- ✓ Mengajar mata pelajaran yang sama di beberapa kelas.
- ✓ Merasa kelas 8A dan 8B membutuhkan pendekatan berbeda.
- ✓ Ingin perangkat lebih rapi dan saling terhubung.
- ✓ Membutuhkan PPT sekaligus perangkat administrasi.
- ✓ Sering mengevaluasi, tetapi catatannya jarang terpakai lagi.
- ✓ Ingin menyiapkan pertemuan berikutnya tanpa memulai dari nol.
Yang sering ditanyakan Bapak/Ibu guru.
Apa saja yang disusun Pramuajar dalam satu proses? +
Lima perangkat sekaligus: Modul Ajar, RPP, LKPD, Materi Ajar, dan PPT. Kelimanya disusun bersamaan dari tujuan yang sama, sehingga isi dan aktivitasnya saling terhubung tanpa perlu diselaraskan satu per satu.
Apakah hasilnya boleh diubah? +
Boleh, seluruhnya. Pramuajar menyusun draf lengkap beserta rekomendasi, lalu keputusan akhir tetap di tangan Bapak/Ibu, mulai dari tujuan, aktivitas, sampai soal dan isi PPT.
Apakah perangkatnya mengikuti regulasi terbaru? +
Ya. Dasar penyusunannya adalah Capaian Pembelajaran sesuai Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 dan materi buku siswa nasional yang relevan. Arah pembelajaran berdiferensiasinya mengikuti Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 beserta aturan lanjutannya.
Dari mana Pramuajar tahu karakter kelas saya? +
Dari dua hal: data kelas yang Bapak/Ibu isi sekali di awal, dan cerita evaluasi setelah setiap pertemuan. Semakin sering evaluasi diisi, semakin sesuai perangkat pertemuan berikutnya dengan kondisi kelas.
Apakah evaluasi wajib diisi setiap pertemuan? +
Tidak wajib, tetapi sangat membantu. Cukup dua sampai empat kalimat, bisa juga diucapkan lewat perekam suara. Tanpa evaluasi pun perangkat tetap tersusun, hanya saja penyesuaiannya tidak sedalam ketika ada cerita dari kelas.
Berapa lama perangkat tersusun? +
Hitungan menit setelah kelas, bab, dan subbab dipilih. Waktu Bapak/Ibu lebih banyak terpakai untuk meninjau dan menyesuaikan hasil, bukan mengetik semuanya dari nol.
Apakah data kelas dan evaluasi saya aman? +
Data tersimpan per akun dan per kelas, dan hanya dipakai untuk menyusun perangkat Bapak/Ibu sendiri. Riwayat perangkat dan evaluasi dapat dilihat kembali kapan saja.
Apakah bisa dipakai untuk beberapa kelas dan mata pelajaran? +
Bisa untuk beberapa kelas sekaligus, masing-masing dengan riwayatnya sendiri, termasuk tingkat yang berbeda. Cakupan mata pelajaran dan jenjang mengikuti buku siswa nasional yang tersedia di aplikasi dan terus bertambah.
Mulai bangun fondasi berdiferensiasi untuk setiap kelas.
Pilih kelas dan materi yang akan diajarkan. Pramuajar menyusun lima perangkat sesuai karakter kelas, menyimpan cerita Bapak/Ibu setelah mengajar, dan memakainya untuk menyusun pertemuan berikutnya.